Catatan 16 : Langkahku di Jepang (1)

Hai.. Hai

Lama sudah saya tidak menceritakan langkah-langkah saya di catatan langkah ini. Pada catatan saya kali ini, langkah kaki saya membawa saya ke negeri matahari terbit.

Perjalanan dari Jakarta ke Osaka saya tempuh dalam jangka waktu 8 jam. Setelah sampai di bandara Kansai Osaka, saya pun mengurus tiket JR-Pass untuk memudahkan akses transportasi saya selama di Jepang. Setelah selesai mengurus, sayapun kemudian berangkat ke Shinjuku menumpang Shinkansen. Perjalanan dengan shinkansen memakan waktu kurang lebih sekitar 2,5 Jam.

img_1815

 

Sepanjang perjalanan Osaka – Shinjuku, saya melihat hamparan lapangan rumput, sungai, rumah warga (Persis seperti yang saya lihat di serial doraemon hehehe) Memasuki Tokyo pemandangan pun berganti menjadi pemandangan gedung-gedung perbelanjaan, Tempat-tempat hiburan khas negara Jepang. Sesampai di Shinjuku Station saya kemudian pergi mencari alamat penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya. Singkat kata akhirnya saya sampai di penginapan dan karena waktu sudah menunjukkan malam hari, maka sayapun beristirahat.

Pagi hari akhirnya tiba, sayapun bersiap pergi ke Takayama dengan menaiki kereta JR Pass. Takayama menjadi salah satu tujuan saya karena saya berencana mengunjungi daerah Shirakawago. Shirakawago merupakan daerah di Jepang yang didalamnya masih terdapat permukiman tradisional warga Jepang. Perjalanan saya mulai dari Tokyo Station menuju Nagoya Station. Sesampai di Nagoya kemudian saya melanjutkan ke arah Takayama. Setelah samapi di Takayama saya menuju ke tempat penginapan yang telah saya pesan. Suasana di Takayama terasa lebih tenang dan tidak seramai di Shinjuku. Takayama memang tempat yang enak untuk beristirahat.

img_2067

img_2130

Di kota sepanjang jalanan kota ini berjajar toko permen, toko barang kerajinan tradisional, dan toko makanan. Di beberapa toko juga menjajakan boneka Sarubobo. Sarubobo adalah boneka khas dari kota Takayama.

img_2126

Sejenak berjalan-jalan di Takayama, saya kemudian menunggu di shelter bus untuk menunggu bus yang akan membawa saya ke Shirakawago. Setelah beberapa menit saya menunggu akhirnya bus pun tiba. Saya bersama wisatawan lainnya satu persatu menaiki bus. Selama perjalanan kami dipandu oleh guide lokal yang sangat komunikatif. Namanya Yamamoto, selama perjalanan dia bercerita banyak mengenai Takayama dan Shirakawago. Yamamoto fasih berbicara dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia. Selama di perjalanan itu pula saya melihat pemandangan alam Jepang dan Yamamoto menawarkan untuk berfoto bersama boneka Sarubobo yang memang dia bawa

img_2262

Perjalanan menuju Shirakawago cukup menarik bagi saya. Banyak melewati bukit, flyover dan beberapa terowogan. Setelah melewati terowongan terpanjang, akhirnya tibalah di Shirakawago. Sebagai informasi nih, Shirakawago terkenal dengan ikon rumah tradisional Jepangnya yang disebut Gassho-zukuri. Rumahnya berbentuk lancip dan beratap tinggi. Dan untuk pembuatannya tidak menggunakan paku. (mantabb..)

img_2285

Memasuki perkampungan tradisional Jepang ini, saya melewati sebuah jembatan yang menjadi pintu masuk bagi wisatawan yang ingin memasukinya. Jembatan tersebut adalah pintu masuk memasuki perkampungan Shirakawago. Jembatan tersebut adalah jembatan ayun yang disebut Suspension Bridge. Jembatan membelah sungai yang sangat jernih. Sesaat melewati jembatan tersebut, akhirnya sampai lah di dalam perkampungan. Di dalam terdapat rumah – rumah Gassho zukuri yang masih terawat dengan baik. Umumnya warga sekitar bekerja sebagai petani ataupun berdagang kerajinan, makanan khas Shirakawago.

 

img_2393

 

img_2403

Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi di Shirakawago ini, antara lain : Doburoku Festival Museum, Wada House, Myozenji Temple Museum, Nagase House, Kanda House. Lokasi awal yang saya datangi adalah Wada House. Wada house adalah rumah yang sebagian ruangannya dijadikan museum. Wada house juga merupakan rumah Gassho zukuri yang terbesar yang ada di Shirakawago ini. Memasuki Wada house, saya melepaskan alas kaki saya dan mulai memasuki rumah. Didalam Wada house saya melihat kamar-kamar khas Jepang. Di kamar utama berlantaikan kayu terdapat alas tatami diatasnya. Sayapun terus memasuki rumah dan sampai di kamar sebelah belakang. Di salah satu kamar itu terhubung dengan taman yang memiliki lantai untuk beristirahat ataupun meminum teh. Setelah beberapa menit saya menikmati taman, saya kemudian mencoba naik ke lantai dua. Di lantai dua terdapat kamar utama yang didalamnya terdapat alat tenun tradisional. Mungkin di waktu dulu di kamar tersebut dipakau untuk menenun benang menjadi pakaian. Puas melihat saya kemudian keluar Wada house.

Melewati jalan di Shirakawago membuat mata kita menjadi nyaman akan pemandagan alam. Maklum Shirakawago terletak di perbukitan. Banyak bunga bermekaran, sawah-sawah penduduk yang menghijau serta saluran air (parit) yang sangat jernih airnya. Penduduk sekitar pun sangat friendly kepada wisatawan yang berkunjung.

Melewati beberapa rumah, saya kemudian masuk ke Doburoku Festival Museum. Seperti biasa, sebelum memasuki rumah, saya melepas alas kaki saya. Di dalamnya kita dapat mencicipi sake tradisional setempat yang bercitarasa otentik. Puas mengeksplor Dobukoru, saya keluar dan kembali berjalan-jalan di sekitar.

 

img_2324

 

img_2347

 

img_2335

 

Berjalan di Shirakawago sangat menarik dan nyaman. Disini tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Daerahnya yang masih tradisional membawa suasana teduh didalamnya. Akhirnya setelah beberapa jam saya berjalan-jalan di dalam Shirakawago, saya kembali ke parkiran bus untuk kembali melanjutkan perjalanan balik ke Takayama.

Ahhh… Shirakawago tempat tradisi yang masih mempertahankan unsur ketradisionalitas-nya

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s