catatan 13: NAPAK TILAS SEJARAH ROKOK.

“NV.Handel.Mij – Sampoerna, Sigaretten Fabriek, Liem Seeng Tee 1932.”

Tulisan itulah yang pertama kali saya lihat di depan pintu masuk House of Sampoerna. Walaupun tidak paham artinya tetapi membuat rasa penasaran saya jadi bertambah. Apalagi bentuk pilar depannya yang berbentuk rokok kretek, wahh jadi tambah penasaran saya.

Kali ini langkah saya tiba di House of Sampoerna, Surabaya.

Terletak di daerah “Surabaya lama” persisnya di sebuah tempat agak terpencil di daerah Jembatan Merah, kompleks bangunan ini dibangun sekitar tahun 1862 dan sekarang ini bangunan ini dijadikan situs cagar budaya kota Surabaya. Bangunan yang bergaya bangunan colonial ini memang awalnya merupakan bangunan milik pemerintah Belanda yang pada waktu dulu berfungsi sebagai panti asuhan putra. Barulah pada tahun 1862 bangunan ini dibeli oleh Liem Seeng Tee, sang pendiri Sampoena.

Di bangunan yang sekarang menjadi kompleks museum ini saya ditawarkan suatu pengalaman yang unik. Pada bagian depan pintu masuk saya langsung disambut oleh guide museum yang ramah. Pada bagian depannya saya langsung mencium aroma wangi tembakau. Tidaklah heran, karena di salah satu bagian di dalam museum ini terdapat tumpukan tembakau. Begitu saya memasuki museum ini saya melihat air mancur mini dengan ikan hias yang sedang berenang di kolam.

Udara dari mesin pendingin ruangan terasa sangat sejuk. Lantainya mengkilap. Petugas-petugasnya berpenampilan rapi seperti pelayan hotel berbintang. Dan tak ketinggalan lukisan-lukisan besar dan barang-barang kuno menghiasi lobi utama gedung ini.

Selain itu juga terdapat replika warung yang konon dahulu merupakan warung tempat menjual cikal bakal rokok Sampoerna yang kita kenal sekarang. Tak jauh dari situ juga terdapat replika yang memamerkan contoh-contoh bahan baku yang digunakan untuk membuat rokok.

Berbagai jenis tembakau terpampang berjajar rapi dalam sebuah lemari kaca. Jenis-jenis yang dipamerkan, antara lain, adalah tembakau Bali, Jawa, dan Bondowoso.Di sini juga diperlihatkan berbagai komponen peralatan untuk meracik tembakau, diantaranya sebuah gelas ukur dan timbangan. Ada juga bentuk tungku besar yang dahulu digunakan untuk mengolah tembakau

Di salah satu sudutnya juga terdapat ruangan tamu lengkap dengan kursi serta meja ditambah beberapa lemari kaca besar khas ruangan tamu jaman kolonial dahulu. Di dalam lemari kaca tersebut terpajang dua stel kebaya milik Siem Tjiang Nio, istri Liem Seeng Tee. Kebaya berwarna putih gading itu masih terlihat baru lengkap dengan selendangnya. Saya memperhatikan banyak juga lukisan yang terpampang di setiap dinding ruangan. Semua lukisan ini berhubungan dengan rokok, entah itu gambar orang merokok atau hanya sekedar gambar rokok lengkap dengan koreknya

Kemudian saya juga melihat sebuah lemari etalase yang didalamnya terdapat koleksi korek api. Puluhan merek korek api dengan berbagai ukuran kotak korek api berjajar rapi di dua buah etalasenya.

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui sejarah berdirinya Sampoerna, disediakan juga beberapa monitor dengan teknologi layar sentuh (touch screen).

Masuk lebih dalam saya melihat bentuk pintu yang berbentuk melengkung dan dihiasi lambang Sampoerna. Pada bagian dalamnya saya juga melihat beberapa contoh mesin pengolah tembakau, ada juga etalase yang berisi rokok-rokok keluaran Sampoerna. Di etalase itu saya dapat melihat jenis rokok khusus dengan bungkus kotak berwarna emas. Di kotak itu tertulis “Istana Presiden” dan “Istana Wakil Presiden”. Memang Sampoerna mengeluarkan beberapa jenis rokok yang merupakan “limited edition”.

Ada juga beberapa barang yang memamerkan pernak-pernik kelompok Marching Band Sampoerna yang berhasil menarik perhatian warga Pasadena , Amerika Serikat pada saat kelompok Marching Band ini tampil di event Tournament of Roses di Pasadena, Amerika Serikat, tahun 1990 dan 1991. Ada seragam marching band, instrumen yang digunakan di marching band tersebut, hingga monitor layar sentuh yang memutar adegan-adegan turnamen yang membanggakan tersebut. Wah pada bagian ini cukup menarik perhatian saya untuk sejenak.

Masih pada ruangan yang sama saya melihat satu lagi replika warung yang memamerkan produk rokok Sampoerna serta berbagai jajanan khas tempoe doeloe, lengkap dengan hiasan lampu petromaks khas warung jaman dahulu. Tak jauh dari situ, ada juga dua buah sepeda onthel milik Liem Seeng Tee serta motor tua merk Djawa keluaran Denmark yang masih sangat terawat dan mengkilap.

. Di dinding sepanjang tangga menuju ke atas terdapat banyak poster yang bergambar hal-hal yang berhubungan dengan promosi Sampoerna. Hmmmm.. dekorasi yang menarik menurut saya.

Di lantai atas saya pandangan saya langsung tertuju pada salah satu sudut ruangan berkaca yang didalamnya ada beberapa ibu-ibu pekerja yang meracik rokok kretek Sampoerna lengkap dengan peralatan pembuatan rokoknya. Menurut guide museum, ibu-ibu pekerja ini dikelompokkan menjadi 3.

Kelompok pertama, pekerja yang bertugas melinting tembakau pada kertas rokok kretek. Kelompok ini menggunakan topi pet berwarna merah. Kelompok kedua, adalah petugas yang bertugas sebagai pemotong rokok serta merapihkan jika tembakau yang dilintaing masih kurang terlinting dengan baik. Kelompok ini mengunakan topi pet berwarna hitam. Sedangkan kelompok yang ketiga adalah petugas yang bertugas mengepak rokok kretek yang sudah jadi. Kelompok ini memakai topi pet warna kuning. Cukup unik bukan…

Masih di lantai yang sama, ada kaca besar yang bening dimana jika kita melihat ke bawah maka kita akan melihat suasana pabrik pembuatan rokok kretek Sampoerna, memang menurut guide museum, pabrik yang berada di bagian bawah tersebut hanyalah pabrik kecil. Pabrik kecil tersebut memang masih beroperasi hingga sekarang dan selain itu juga sebagai bagian museum yang memberikan informasi secara nyata tentang bagaimana dinamika sebuah pabrik rokok kretek. Jadi tak heran bila dari awal di depan museum tadi saya mencium aroma wangi tembakau memenuhi bagian dalam museum, ternyata pada bagian museum yang lebih dalam terdapat pabrik kecil. Menurut info yang saya dapat, sebelum menjadi pabrik menurut guide museum dulunya tempat pabrik ini beroperasi sebagai bioskop. Dan pintu melengkung di lantai di bawahnya yang saya lihat tadi adalah pintu masuknya.

Di lantai dua ini ternyata juga berfungsi untuk lokasi kios. Di sebuah sudut ruangan terdapat berbagai macam cinderamata yang dijual, mulai dari t-shirt, pin, buku, kotak rokok, korek gas, gantungan kunci, tas, dan berbagai macam gaya notebook.

Puas melihat bagian dalam museum saya kembali turun ke bawah menuju pintu keluar. “Terimakasih Mas atas kunjungannya” sapa seorang petugas di pintu sambil membukakan pintu untuk saya. Wahh, alangkah ramah dan baiknya petugas-petugas museum House of Sampoerna ini. Gumam saya dalam hati.

Di bagian luar saya melihat ada mobil wisata berbentuk trem mirip mobil wisata yang ada di taman buah mekarsari. Sayapun mendekatinya untuk cari tahu lebih jelas. Setelah bertanya ke petugas ternyata mobil wisata tersebut adalah bis Surabaya Heritage Track. Salah satu program tur edukasi yang diselenggarakan oleh House of Sampoerna.

Surabaya Heritage Track adalah program tur berkeliling kota Surabaya dengan gratis untuk mengunjungi situs-situs bersejarah, mempelajari legenda tentang Surabaya -atau yang dikenal dengan “Babad Surabaya” -, dan untuk berfoto-foto di daerah-daerah bersejarah, seperti monumen Tugu Pahlawan dan gedung PT Perkebunan Nusantara yang dahulu adalah tempat untuk menimbun hasil bumi pada zaman penjajahan Belanda.

Dalam sehari, bis lucu dan unik yang berpangkalan di House of Sampoerna ini menjalani tiga kali trip, yaitu pukul 10.00-11.30 WIB, 13.00-14.30 WIB, dan 15.00-16.30 WIB. Untuk hari Jumat-Minggu, waktu trip diperpanjang setengah jam menjadi 09.00-11.00 WIB, 13.00-14.30 WIB dan 15.00-17.00 WIB.
Selain museum dan Surabaya heritage track di House of sampoerna ini juga terdapat the Café Sampoerna ialah sebuah restoran dengan konsep yang sangat unik, dimana seluruh design interiornya mengadopsi gaya kuno/retro yang selaras dengan bentuk bangunannya. Dalam the Cafe ini juga terdapat beberapa ornamen-ornamen kuno yang unik hingga lukisan yang menggambarkan beberapa slogan iklan Sampoerna. Waktu saya berkunjung kebetulan ada pasangan yang akan melakukan foto prewedding di dalamnya.

Akhirnya setelah berputar di kompleks House of Sampoerna sayapun kembali untuk menuju pulang. Menuju tempat parkir, saya kembali melewati bangunan museum dan rumah keluarga Sampoerna yang lengkap dihiasi mobil Rolls Royce lawas yang parkir di sampingnya.

House Of Sampoerna, merupakan kompleks tempat yang menarik untuk dikunjungi selain memberikan nuansa museum serta café yang berbeda, tempat ini juga memberikan nilai-nilai edukasi yang lengkap mengenai sejarah Sampoerna serta kontribusinya dalam membangun negara Indonesia ini.

“Maju terus House Of Sampoerna. Namamu harum seharum wangi aroma tembakaumu.”

Sampai jumpa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s