Catatan 11 : Melihat kubah emas di Dian Al Mahri

Pada kesempatan kali ini saya bergerak ke pinggiran kota Jakarta, tepatnya kota Depok. Lebih tepatnya di Maruyung, Cinere, Limo, Kota Depok. Rencananya saya akan mengunjungi sebuah  bangunan ibadah yang memiliki keistimewaan  tersendiri.

Nama tempat yang saya maksud  adalah Masjid Dian Al Mahri yang lebih dikenal oleh orang banyak sebagai  Masjid Kubah Emas.

Kubah Emas ???  ya Kubah Emas. Disebut demikian karena di bangunan Masjid ini pada beberapa bagian kubahnya dilapisi dengan emas. konon dari buku buletin yang dijual di pintu masuk Masjid ini, emas yang dipakai adalah emas 24 karat dari Itali. Sungguh istimewa indah kubah dari masjid ini.

Setelah beberapa jam menuju kawasan tersebut, akhirnya langkah saya sampai di lokasi yang dimaksud. Jalan menuju ke lokasi cukup sempit (hanya 2 jalur). Kendaraan pun saya parkir dan saya pun mulai melangkah menuju arah Masjid.  Berjalan melalui jalan setapak yang beraspal menuju halaman masjid, pemandangan taman yang begitu luas dan indah terpampang  jelas di depan mata saya. Taman yang menurut info yang saya peroleh memiliki luas 4.000 meter persegi itu terbentang mengelilingi bangunan Masjid. Tanaman hias (bonsai) berwarna-warni yang ditanam di pot hingga berbagai tanaman buah juga berjejer rapi melengkapi keindahan sekeliling bangunan cantik itu. Dengan lokasi yang tertata apik seperti ini tidaklah mengherankan apabila pada hari-hari tertentu seperti Hari Raya ataupun hari libur nasional lainnya, tempat ini menjadi lokasi yang banyak dikunjungi oleh masyarakat yang ingin melihat keistimewaan dari bangunan Masjid ini.

Berdasarkan  info dari buku kecil yang saya beli di pintu masuk Masjid ini, Bangunan Masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 70 hektar. Bangunan ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai pembangunannya akhir tahun 2006. Bertepatan dengan hari besar Idul Adha yang kedua kali tepatnya pada tanggal 31 Desember 2006, Masjid ini mulai dibuka untuk umum. Oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, wanita pengusaha asal Banten, Masjid ini dibangun dengan terlebih dahulu membeli tanah ini pada tahun 1996. Konon Masjid Dian Al Mahri ini merupakan salah satu dari 7 masjid berkubah emas di dunia. Istimewa bukan.

Bergerak menuju dalam Masjid, sebagai mana kebiasaan jika ingin memasuki Masjid tentunya alas kaki harus ditanggalkan. Saya pun menanggalkan alas kaki saya dan menitipkannya ke bagian penitipan alas kaki yang memang telah disiapkan oleh pengelola Masjid. Letaknya ada di bagian agak dalam, setelah meniti beberapa anak tangga serta melewati tempat berwudhu maka saya menemukan bagian penitipan alas kaki. Di situ saya mendapat nomor penitipan  layaknya kalau kita hendak menitipkan barang bawaan kita di supermarket. Pintu masuk Masjid ini dipisahkan antara pria dan wanita, dan di depan Masjid ada tulisan dilarang masuk untuk anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Dan perlu diingat juga bahwa pada siang hari, halaman luar masjid/lantai depan masjid sangat panas, sehingga pihak pengurus Masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman Masjid. Memang saat saya berjalan di lantai depan Masjid memang kaki saya terasa sangat panas, mungkin karena bahan lantainya yang memang menyerap panas dari matahari.

Masjid ini memiliki 6 menara (minaret) berbentuk segi enam. Ke 6 menara (minaret) ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India dan dibalut dengan mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya didatangkan dari Itali. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai warna langit pada waktu-waktu sholat. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan bantuan komputer. canggih bukan..

Di bagian dalam ruangan masjid terdapat pilar-pilar yang kokoh menjulang tinggi. Pilar Masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas. Didominasi dengan unsur warna krem. Adapun setiap mahkota yang terdapat pada pilar masjid juga berlapiskan emas. Pegangan tangga dari lantai satu ke dua juga dilapisi emas serta hiasan, termasuk tulisan tasbih, ornamen di atas mimbar imam juga dilapisi emas. Ketika berada di dalam saya melihat banyak umat yang dengan khusyuk memanjatkan doa, ada pula yang membaca Al-Quran, mengobrol atau sekedar beristirahat. Memang sungguh hangat suasana di dalam Masjid ini.

Setelah memasuki bagian dalam Masjid ini. Sayapun melangkah kembali mengelilingi bagian luar Masjid. Di kawasan Masjid ini ternyata juga dibangun semacam aula untuk titik berkumpul, ada juga tempat penjualan souvenir serta Pada bagian kanan Masjid terdapat sebuah rumah yang tidak kalah megah. dimana menurut penjaga Masjid adalah rumahnya Ibu Hj Dian. Rumahnya pada bagian atasnya terdapat menara kecil yang mengingatkan saya seperti bagian atas istana Presiden yang ada di Bogor yang juga berlapis emas. Oh iya, jika anda yang ingin berkunjung ke kawasan ini dan ingin mengabadikan gambar tetapi tidak membawa kamera (tustel) tenang saja, banyak photographer yang memang sudah dikelola oleh yayasan Dian Al Mahri yang dapat membantu anda yang ingin berfoto.

Setelah puas mengelilingi Masjid Kubah Emas ini, akhirnya saya mengakhiri langkah saya di kawasan Meruyung ini. Sungguh Masjid Dian Al-Mahri merupakan tempat ibadah yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sampai ketemu di catatan langkah saya yang mendatang ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s