catatan 10 : Mampir sejenak di “Rumah” Betara Wisnu.

Yup, sekarang langkah kaki saya menginjak di daerah Bukit Ungasan, Jimbaran Bali. kali ini saya bermaksud mengunjungi sebuah taman kebudayaan yang rencananya dibuat sebagai ikon pariwisata Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Garuda Wisnu Kencana (GWK) itulah nama tempat yang saya maksud di catatan saya kali ini. Taman kebudayaan (cultural Park) yang berada di Bukit Ungasan ini. merupakan sebuah areal kompleks yang menurut rencana selain terdapat patung Betara Wisnu juga akan dibangun exhibition center, beberapa restoran, amphiteather, Lotus Pond dan beberapa sarana lain.

Sepanjang perjalanan ketika memasuki kawasan ini, saya melihat banyak tebing-tebing batu cadas yang berukuran besar. Jujur awalnya saya agak bingung dengan apa yang saya lihat tersebut. ” Tempat wisata kok banyak batu-batunya?? padahal ini bukan wisata air panas belerang? “ itu yang ada di pikiran saya saat melihat banyak batu besar di jalan menuju kawasan ini. Tapi  ternyata setelah saya amati lebih lama ternyata memang lokasi kawasan ini memang terletak di daerah perbukitan cadas.

Dengan tiket masuk per orang @ Rp. 20.000,- yang mana merupakan jumlah nominal tiket wisata yang tidak murah, bisa dipastikan layanan dan fasilitas wisata yang mengagumkan.  Setelah saya melewati petugas parkir dan tiket, saya menyusuri jalan. Kemudian ada pos ke dua untuk mengecek kembali tiket yang sudah dibeli. Barulah saya bisa masuk ke tempat ini. Memang di areal wisata yang digagas oleh Bapak I Nyoman Nuarta ini menurut saya tertata dengan apik. Namun setelah  kendaraan saya diparkirkan, saya melihat – lihat sebentar pemandangan dalam bahasa jawa  ”clingak – clinguk“.Ssaya merasa sedikit bingung, karena tidak adanya penunjuk jalan ataupun informasi yang tersedia. Akhirnya saya memutuskan pertama untuk melewati toko souvernir / oleh – oleh. Disini banyak sekali pernak pernik, ukiran / pahatan kayu dalam berukuran kecil, sedang dan besar, miniatur patung dan sebagainya.

Lalu saya menyusuri di tebing kapur yang sudah di ukir. Dengan tinggi tebing kira – kira 20 meter lebih sangat membuat tempat ini terlihat semakin megah.

Kemudian setelah melewati toko souvenir dan beberapa tebing itu  saya kemudian berjalan dan sampai di tengah – tengah lapangan. Kemudian saya bertemu beberapa anak tangga dan sayapun menaikinya. sesampainya di atas  ada sebuah patung kepala Garuda besar yang belum selesai konstruksinya. Inilah patung kepala Garuda yang memang belum selesai pengerjaannya.

Lapangan

Melangkah lagi ke arah atas saya menjumpai seperti lapangan (namun lebih kecil ukurannya dari yang berada di bawah) dan terdapat patung kepala Dewa Wisnu yang juga belum selesai konstruksinya. Memang di areal ini terdapat 3 bagian patung yang rencananya akan disatukan menjadi satu. potongan bagian patung itu antara lain adalah : Kepala Dewa Wisnu, Kepala Garuda serta Tangan Dewa Wisnu. Jika pembangunan Patung ini selesai maka patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia mengalahkan patung Liberty yang ada di negeri Paman Sam. Membaca dari katalog mini yang saya dapat di pintu masuk, Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia.

Masih di seputaran di bagian selasar atas. Di sini juga terdapat pura kecil yang terdapat mata air suci yang konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit bilamana kita percaya. Namun sebagaimana tempat yang disucikan ada beberapa larangan yang harus kita patuhi, salah satunya yakni tidak boleh merokok dan harus sopan.

sayapun ikut mengantri untuk mendapatkan percikan air dari pendeta Hindu yang ada di situ. Kebetulan siapapun boleh mengantri untuk mendapatkan percikan air yang diselingi juga oleh doa yang diucapkan oleh pendeta Hindu disana. Jadi mumpung ada di GWK saya pun ikutan mengantri. Selain pura kecil bermata air suci dibagian atas inipun terdapat bale bengong (semacam gazebo untuk beristirahat) dan teropong (tentunya setelah memasukkan beberapa koin ke dalamnya) yang bisa kita digunakan untuk melihat pemandangan ke arah bawah. Karena letak GWK ini memang ada di atas bukit jadi kita dapat melihat ke arah bawah.

Puas menyusuri bagian atas kemudian saya kembali berputar ke arah bawah. saya juga menemui tempat seperti ruangan yang berisi patung barong dengan berbagai bentuk, gamelan serta beberapa patung lainnya.

Oh iya, terkadang di jam-jam tertentu ada pemain gamelan yang latihan di tempat ini. Wahh, merupakan pengalaman yang menarik untuk saya melihat pemandangan di areal ini sembari mendengar alunan gamelan khas Bali. apalagi jika mendengarnya di saat senja tiba. Wuahh sangat eksotis menurut saya. hehehe…

Kemudian setelah saya melihat ruangan tadi  sayapun turun menyusuri tangga, ada sebuah taman dan kolam renang dengan skala kecil. Disini saya duduk sebentar untuk beristirahat sejenak. Karena terus terang saya merasa capek sekali. Ternyata tempat ini sangat lah luas, hehehe ….  disini nih ada tempat pemandian para raja / dewa. Terus terang sayapun belum begitu tahu fungsi tempat ini. Tapi bisa di artikan seperti itu deh … . Kalo ada yang mau iseng-iseng berfoto ada patung sapi nih … lucu juga .. hehe

Setelah beristirahat sejenak sayapun bergerak ke arah ampitheater, karena belum jam pagelaran maka saya melihat beberapa anak-anak yang sedang berlatih bersama gurunya yang terlihat juga masih sangat muda. memang kebanyakan masyarakat Bali menanamkan rasa cinta kebudayaan sejak mereka berumur dini.

Ampitheater ini berbentuk seperti ampitheater yang ada di budaya Romawi (namun dengan nuansa Bali tentunya), dengan tangga-tangga yang berfungsi sebagai tempat duduk dan panggung di depannya. sayapun menunggu jam pagelaran di sore hari. sambil menunggu saya mencari makan sejenak di restoran yang berada di dalam areal kompleks GWK ini. Saat makan saya mendengar tabuhan gamelan yang berasa semakin dekat. sayapun bingung. setelah saya perhatikan ternyata pada saat-saat tertentu ada arak-arakan Barong, Leak serta beberapa penari yang diiringi tabuhan gendang khas Bali ditambah rencek (cymbal kecil khas Bali) yang berjalan berputar kawasan GWK ini.

Sorepun datang, sayapun melihat pertunjukan di Amphiteater. ceritanya memang sekitar kisah Ramayana namun dikemas dengan budaya Bali. jadi dialog dengan bahasa Bali. selain itu juga ada pagelaran tari pendet pada bagian awalnya.

Akhirnya setelah melihat pertunjukan tadi dan berjalan kesana kemari mengunjungi beberapa sudut Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, saya merasa capek dan letih. Tetapi saya merasa puas dan lega karena pemandangannya yang Megah dan suasana yang menyenangkan membuat tempat ini patut dikunjungi.

Jadi sampai jumpa lagi ya di catatan saya yang selanjutnya. Suksme..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s