Catatan 8 : Berjalan di sekitaran Pura Uluwatu.

Yeehaaaa!!! Kali ini langkah saya kembali sampai di Pulau Bali. Pulau Dewata yang sudah tersohor di seluruh pelosok bumi. Hehehe..

Sekarang langkah saya berjalan menuju salah satu pura yang juga terkenal di Bali yaitu Pura Uluwatu. Pura ini terletak di daerah Pecatu. Bali. Menurut cerita dari beberapa kawan yang menarik dari tempat ini adalah letaknya yang terletak di atas. Seperti pura Tanah Lot .

Sesampai saya di kawasan Pura ini, seperti halnya aturan jika ingin masuk ke Pura. Saya langsung memakai kain serta selempang ikat pinggang yang memang sudah disediakan di depan pos masuk. Tentu banyak dari kita yang non-masyarakat Hindu Dharma Bali yang agak sedikit bingung, mengapa kita harus memakai kain serta selempang ikat pinggang ketika memsuki lokasi Pura bukan? Nah, Kenapa harus memakainya? Saya menyimpulkan demikian :Karena kita memasuki tempat suci. Dan harus diikat di pinggang. Artinya apa? Artinya  kita mencoba mengikat niat-niat jelek. Kalau tidak terlalu percaya, ikuti saja aturan di Pura. Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung  bukan?? Hehehe

Setelah memakai kain, maka mulailah saya masuk ke dalam kawasan Pura Uluwatu. Memasuki Pura ini saya langsung dihadapkan dengan hutan di kanan kiri jalan yang saya lalui menuju Pura utama.  Memang di depan Pura Uluwatu ini terdapat hutan kecil yang disebut dengan alas kekeran, yang menurut cerita  berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.  Sepanjang jalan saya melihat banyak monyet berkeliaran di sana-sini. Memang di kawasan Pura ini monyet bebas berkeliaran. Satu tips untuk anda yang mau berkunjung ke tempat ini adalah berhati-hatilah dengan monyet yang berkeliaran di dalam kawasan ini. Tak jarang monyet ini iseng, mengambil apa saja yang melekat di badan pengunjung. Topi, kupluk, kaca mata, atau barang-barang yang sekiranya gampang di ambil lebih baik ditaruh di tas. Karena monyet-monyet  ini mengambil barang-barang yg kita pakai untuk ditukar dengan makanan. Jadi barang-barang itu baru dapat kita raih kembali dari monyet-monyet itu apabila kita menukarnya dengan makanan yang juga dijual di bagian dalam Pura ini.

Setelah melewati jalan di depan Pura, sampailah saya di sebuah tempat terbuka yang menurut saya mungkin digunakan untuk pagelaran tarian ataupun pentas seni lainnya.  Selasar ini terletak agak di bagian bawah, sedangkan Pura utama terletak agak naik ke atas. Sehingga Pura ini terlihat  seperti bertengger di ujung tebing batu yang sangat tinggi dan curam, dengan pemandangan lautnya dibawah berwarna biru bersih dan hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik. Wauww.. pemandangan yang mengasyikan bagi saya.

Saya pun melangkah menyusuri kawasan Pura ini. Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Namun mungkin karena ada aturan tertentu, tidak semua Pura bias saya masuki. Saya tidak boleh masuk ke dalam Pura karena yang boleh hanyalah orang-orang yang mau sembahyang, atau yang menggunakan pakaian adat Bali.

Setelah berkeliling, tanpa disadari waktu sudah menunjukkan sore hari. Karena terletak di daerah Barat. Maka saya dapat melihat sunset  atau matahari terbenam. Memang menurut info yang saya dapat di pintu masuk di depan, waktu yang baik untuk datang ke Pura ini adalah menjelang sore hari.

“Wahh, pas bener ni…”  pikiran saya hehehe..   Melihat matahari terbenam dari atas Pura ini yang berbatasan langsung dengan pantai Pecatu yang terletak persis di bawah Pura ini memang memberikan pengalaman eksotis bagi saya. Birunya laut ditambah dengan langit sore hari memang sungguh pemandangan yang menarik.

Setelah melihat matahari terbenam, maka berakhirlah langkah saya berputar-putar di kawasan Pura Uluwatu ini. Sya pun kembali berjalan menuju pintu utama tadi, setelah berjalan dari bawah samapilah saya di pos persewaan kain dan selempang tadi. Namun sebelum saya kembali ke penginapan, saya melihat banyak warung yang berada di dekat  tempat parkiran. Saya pun mampir sejenak untuk melepas lelah. Di warung sini kelapa muda yang menjadi barang jualan yang diutamakan. Sayapun memesannya. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati kelapa muda tiba-tiba terlihat seekor kera berlari mencoba memsuki warung yang berada di samping warung dimana saya duduk. Wah memang kera di daerah sini sangat sangat iseng. Sampai-sampai mencoba kembali iseng walaupun warung ini berada di luar kawasan dalam Pura. Ck..ck…ck…

Puas beristirahat sebentar sambil menikmati buah kelapa. Akhirnya sayapun memutuskan untuk kembali ke penginapan,Wah, perjalanan kali ini membuat saya puas. Sepuas mata saya menyaksikan keindahan matahari terbenam dari atas Pura Uluwatu.

Sampai jumpa di catatan langkah saya berikutnya. Matur suksme…..

2 thoughts on “Catatan 8 : Berjalan di sekitaran Pura Uluwatu.

  1. Tanggal 11 februari 2012 kmarin, saya pergi ke pura uluwatu ini, namun sbelum masuk ke pura, botol minuman serta sandal milik ibu saya diambil oleh monyet. Sehingga kami pun ketakutan dan memutuskan untuk pulang dan tidak pergi ke pura. Saya pergi di saat pukul 09.00 pagi..mungkin terlalu pagi sehingga monyet disana terfokus pada kedatangan kami hehhee. Pdhal saya sudah melihat keindahan lautnya…

  2. wahh, berarti belom sempat sampai naik ke pura yang diatas ya mba. coba deh kalau ada kesempatan lagi, mungkin lebih bagus kalo pergi kesana di waktu sore. sambil tunggu matahari terbenam. lihat matahari terbenam dari atas tebing itu pemandangannya bagus mba. hehe,

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s