Catatan 3 : Kebon Jahe Kober, nuansa kolonial di era moderen

Mungkin tak banyak orang yang menyadari keberadaan taman ini. Istilah  taman   biasanya tentunya merujuk pada suatu tempat penuh dengan tanaman serta pepohonan rindang, terkadang juga terdapat kolam atau mata air di bagian tertentu. Namun  ada di taman yang satu ini selain terdapat pepohonan juga terdapat beberapa bangunan makam yang telah berusia cukup tua.

Yah, inilah dia Taman Prasasti yang terletak di Jl Tanah Abang 1, Jakarta Pusat. yang dikenal juga sebagai Kebon Jahe kober. “kober” memang istilah yang merujuk pada sebuah taman pemakaman. Dulunya Taman Prasasti ini memang dikenal dengan julukan “Kebon Jahe Kober (Kerkhof Laan)”

Di lokasi Areal pemakaman yang dibuat pemerintah kolonial pada 1795 ini terdapat makam-makam peninggalan masa silam. Era kolonialisme Belanda.

Ketika saya memarkirkan kendaraan saya, saya melihat ada benyak tulisan-tulisan berbahasa Belanda yang terletak menempel pada dinding di tempat parkiran tersebut. Dari tulisannya, saya melihat ada keterangan tahun lahir serta tahun meninggal. Meskipun saya hanya sedikit bahasa Belanda, saya menerka bahwa apa yang saya lihat itu adalah batu nisan yang ditempel di dinding.

Di dinding??  Ya, inilah yang saya lihat. Tetapi bukankah biasanya batu nisan terletak di bagian bawah menyentuh tanah makam?? Hmmm…., inilah yang membuat rasa penasaran saya menjadi semakin timbul.

Dengan membayar karcis masuk seharga Rp. 2000 per orangnya. Saya memasuki areal pemakaman tua ini. Sedikit melongok ke belakang tempat penjualan karcis masuk, saya melihat ada beberapa peti jenazah terletak di sana. Didesak rasa penasaran kemudian saya bertanya peti jenazah apakah yang diletakkan itu kepada petugas penjual karcis masuk. kemudian si penjaga Loket karcis itupun memberitahu saya bahwa peti jenazah yang terletak di dalam itu adalah peti jenazah Bung Karno dan peti jenazah Bung Hatta. Peti-peti itu diletakkan di dalam sebuah ruangan yang menurut saya mirip seperti sebuah aula.

Sedikit masuk ke dalam, saya melihat ada bangunan berbentuk seperti tiang atau batu menhir terletak saling berdekatan. Saya pun bergerak mendekat untuk mencari tahu bangunan apakah tersebut??

Saya pun memperhatikannya. ternyata bangunan yang terletak dengan posisi vertikal tersebut tak lain adalah batu nisan dari (kebanyakan) orang Belanda yang dimakamkan di areal ini. Yang unik selain bentuknya yang diletakkan dengan posisi vertikal, juga di setiap bangunannya terdapat nomor makam pada bagian atasnya.

Memang di areal pemakaman tua ini terdapat banyak nisan makam ada yang dihiasi dengan patung yang konon adalah patung dari orang yang dimakamkan itu sendiri. Saya melihat banyak patung seperti patung wanita bertelungkup sedang menangis, Patung Yesus Kristus di atas sebuah makam, Patung malaikat dengan kedua sayap di punggungnya. dan masih banyak lagi. Selain Patung juga terdapat bentuk bangunan yang cukup unik . Antara lain terdapat bangunan makam yang di atasnya terdapat tengkorak manusia yang ditancapkan pada sebuah tombak atau seperti pagar yang runcing. Konon banguna tersebut dibuat sebagai tanda peringatan bagi para pemberontak yang ingin melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang berkuasa pada saat itu. Pieter Erderveld, itulah nama pemberontak yang dimaksud. Karena ingin memberontak maka dia dihukum mati secara tragis dengan cara tubuhnya diikat pada dua kuda lalu ditarik oleh kedua kuda yang berlawanan arah.  Prasasti aslinya ada di pelataran belakang Museum Fatahillah.

Selain itu juga ada pula bangunan nisan dari Dr. Willem Frederik Stutterheim. Dilihat dari sejarah biografinya                   Dr. Willem Frederik Stutterheim ini adalah ahli purbakala. Mungkin oleh karena  profesinya yang sebagai ahli purbakala itu, lantas bangunan nisannya diberi ornamen berupa relief ragam hias Hindu- Jawa, bukannya ragam Eropa klasik ataupun neogothic seperti nisan lainnya.

Ada pula bangunan nisan yang berbentuk seperti lingga dengan ukiran antefak, mirip ukiran di candicandi Buddha. dan masih banyak bangunan lainnya yang saya temukan di lokasi ini. Sesaat seperti kembali ke situasi waktu kolonial dahulu ketika kita memasuki areal ini. Selain bangunan Makam pada bagian depan agak masuk saya juga melihat adanya kereta yang menurut pemandu di lokasi taman prasasti ini merupakan kereta untuk membawa jenazah yang datang dari suatu daerah yang ingin dimakamkan di areal ini. Konon untuk menjaga keorisinalitas kereta jenazah tersebut Keraton Yogyakarta meminjamkan ahli kereta kuda mereka untuk memperbaiki kereta jenazah yang merupakan koleksi Museum Taman Prasasti.

Pada waktu saya mengunjungi taman prasasti ini ternyata banyak juga pangunjung yang hunting foto disini. Maklum saja apabila kita dapat menentukan angle serta pencahayaan  foto yang tepat maka kita akan mendapatkan nuansa Eropa di tempat ini. Jadi tempat ini juga cocok untuk hunting foto bagi para pecandu fotografi.

Yah, Kebon Jahe Kober memang salah satu tempat di Ibukota yang masih menyimpan nuansa Kolonial di tengah semakin lajunya perkembangan modernitas di Ibukota ini. Jadi bila anda ingin merasakan nuansa jalan-jalan yang berbeda, tak ada salahnya jika anda bergerak menuju tempat yang satu ini. Musium Taman Prasasti yang terletak di daerah Tanah Abang dekat kantor Walikota Jakarta Pusat ini. Dengan mengunjungi tempat bersejarah seperti ini berarti kita juga ikut serta dalam menjaga dan melestarikan sejarah.

Enak ‘kan bisa jalan-jalan yang murah meriah senang, dapat tambah pengetahuan serta turut serta melestarikan lokasi sejarah…..

……Dank je…………

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s