catatan 15 : Sejenak bermain di pulau penyu

halo.. jumpa lagi dengan saya..

Memang sih, saya cukup lama tidak menuliskan catatan perjalanan saya di blog tulisan saya ini.. Nah untuk mengobati kerinduan saya untuk menulis, kali ini saya akan kembali sejenak menceritakan perjalanan langkah saya.

Oke, kali ini langkah kaki saya membawa saya ke pantai yang kurang lebih berjarak sekitar 11 kilometer dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Namanya adalah Pantai Tanjung Benoa.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 1 jam, akhirnya saya bersama rombongan sampai di Pantai Tanjung Benoa. Setelah memutar mencari tempat parkir, akhirnya saya turun dari mobil sewaan yang mengantarkan kami penginapan kami di daerah kuta. Setelah turun dari mobil, hal pertama yang saya lihat adalah banyaknya wahana wisata air (watersport) yang disewakan di sana. Sayapun kemudian berjalan ke salah satu tempat yang terlihat seperti rumah pantai. Didalamnya saya bertemu dengan seorang bapak yang menjadi pengelola wahana wisata di situ. Kamipun kemudian disodori buku yang di dalamnya berisi menu wahana wisata yang disewakan bagi pengunjung di situ. Setelah melihat-lihat (dan menghitung-hitung uang yang ada di kantong kami) maka kamipun kemudian memilih untuk mencoba wisata perjalanan ke pulau penyu.

Setelah deal mengenai biaya perjalanan dengan pengelola wisata, kamipun bertiga menunggu datangnya perahu yang akan mengantarkan kami menuju pulau penyu. Tak lama kami menunggu, kemudian perahu tersebut menepi untuk menjemput kami. Perahu yang membawa kami tersebut adalah perahu nelayan yang pada bagian bawahnya terdapat kaca transparan sehingga kami dapat melihat ikan-ikan yang berenang renang di bawah perahu. Perjalanan dimulai… kami melewati dermaga pantai tanjung benoa yang berisi wahana wisata air serta perahu – perahu lainnya. Kira-kira setelah 10 atau 15 menit perjalanan kemudian kami tiba di suatu titik (spot) daerah yang ramai didatangi perahu-perahu yang sama seperti perahu yang membawa kami. Perahu pun berhenti, kemudian bapak pengemudi perahu membagikan beberapa lembar roti tawar kepada kami. Ternyata tempat (titik) tersebut merupakan tempat berkumpumpulnya ikan-ikan laut hias.. yah, bisa dibilang markas nya mereka lah.. hehe…. Kamipun kemudian ikutan melemparkan remahan roti tawar ke bawah.

Kira-kira sekitar 10 menit kami berhenti di situ, perahu kamipun kembali dinyalakan dan melanjtkan perjalanan ke pulau penyu. Tak lama kemudian kami tiba di pulau penyu itu.

 

penyu 1

Kamipun lalu membeli tiket masuk sebesar 5000 rupiah per pengunjung. Setelah melalui loket tiket, kemudian saya berjalan ke arah dalam. di dalam lokasi pulau penyu tersebut terdapat beberapa kandang penamgkaran penyu. Di setiap kandangnya terdapat penyu-penyu yang dibagi berdasarkan kategori usia. Di setiap kandangnya  terdapat beberapa ekor penyu. dan sayapun mencoba untuk memegang penyu yang terlihat sudah lumayan berusia di situ. Selain penyu di sebelah kanan menuju ke arah jalan keluar juga terdapat kandang ular dan kandang kelelawar hitam (kalong), jalak bali dan jika ada pengunjung yang ingin memegang, makan pengelola akan membuka kandang dan mempersilahkan pengunjung untuk memegang.

penyu 2

 

Oh iya, di tempat ini setiap pengunjung atau rombongan akan ditemani oleh seorang pemandu yang akan menceritakan dan memandu pengunjung yang datang ke pulau penyu ini. Setelah berkeliling di dalam pulau, sayapun bergerak ke arah pintu keluar. Di dekat pintu keluar saya melihat toko souvenir yang menjajakan kerajinan dari penduduk sekitar serta warung kelapa yang dapat dipesan oleh pengunjung sambil duduk – duduk beristirahat di tempat peristirahatan yang menyatu dengan toko souvenir. Sayapun juga memesan kelapa muda sambil duduk – duduk di tempat peristirahatan ditemani oleh bapak pemandu.

penyu 3

Puas berkeliling pulau penyu, sayapun kemudian kembali ke dermaga untuk menemui bapak pengemudi perahu yang sudah menunggu kami untuk kembali ke tanjung benoa.

Sampai jumpa lagi penyu – penyu lucu, cepat tumbuhlah besar dan isilah lautan dengan tingkah laku lucumu ya……

 

 

catatan 14 : Memandangi monumen Four Faces Buddha

Hai.. hai.., ketemu lagi di catatan langkah saya kali ini……

Sekarang langkah saya kembali berjalan di kota pahlawan. Kali ini saya melangkah ke sebelah timur kota Surabaya. lebih tepatnya kawasan pantai Kenjeran.

Sepanjang perjalanan menuju pintu masuk kawasan pantai, saya melihat banyak warung yang menjual kerupuk ikan, kerupuk teripang, ikan asin, rengginang lordjuk (sejenis kerupuk yang diberi tambahan campuran kerang yang berbentuk kecil memanjang) dan lain sebagainya, maklum saja kawasan ini adalah kawasan pantai sehingga oleh-oleh khas yang dijual tidak lain adalah makanan yang berasal dari tangkapan hasil laut.

Saya sampai di kawasan pantai kenjeran kira-kira jam 3 siang, hari itu adalah hari minggu. Jadi kawasan ini memang agak ramai. Mendekati pintu masuk kawasan pantai, saya melihat ada tenda-tenda acara dan dari jauh saya melihat banyak orang berkumpul. setelah agak dekat barulah saya tahu, ternyata di hari itu sedang ada acara balap motor (road race) yang disponsori oleh salah satu merek rokok. memang di kawasan ini sering dijadikan tempat penyelenggaraan balap motor. sebentar melihat-lihat sayapun kembali berjalan menuju arah pintu masuk.

Sampai di pintu masuk, saya membayar tiket masuk. setelah itu barulah saya berjalan menuju arah dalam kawasan ini. Kali ini langkah saya tertarik untuk berkunjung melihat monumen Four Faces Buddha yang ada di dalam kawasan ini.

Setelah berjalan sebentar akhirnya sampailah saya di gerbang masuk lokasi monumen ini.

Sayapun bergerak memasuki lokasi ini. pertama yang saya lihat ketika di depan pintu masuk monumen ini. saya melihat ada semacam bangunan seperti kolam bersih yang diberi atap memanjang ke arah dalam. saya juga tidak terlalu mengerti apa maksudnya. Di sebelah kiri kolam itu ada seperti bangunan toko yang menjual cinderamata serta perlengkapan beribadah umat buddha yakni lilin, hio dan peralatan lainnya.

bergerak masuk saya melihat monumen Buddha empat wajah tersebut. Patung itu tingginya sekitar sembilan meter, bahannya dilapis dengan emas murni. Pelapisnya sendiri langsung didatangkan dari Thailand. Patung itu berada di dalam sebuah bangunan stupa.

Di monumen ini terlihat Sang Buddha duduk di sebuah singgasana. Awalnya saya bingung, menerka-nerka mana bagian depan patung/monumen itu. Karena memang ada empat muka Buddha, Namun setelah saya bertanya pada penjaga toko di dekat gerbang masuk, ternyata gampang kok untuk mengetahuinya .Wajah yang menghadap depan adalah yang tangannya memegang tasbih. Menurut penjelasan dari penjaga toko di depan keempat wajah Buddha tersebut mengandung filosofi empat sifat Sang Buddha Gautama yaitu welas asih, murah hati, adil dan bersemedi dengan tenang atau meditasi.

Jika diperhatikan, monumen Buddha Four Faces ini memiliki empat wajah dan delapan tangan. dimana di setiap tangannya terdapat kitab suci, air suci, sebuah senjata yang digambarkan sebagai senjata pertahanan, kemudian sebuah senjata yang sebagai simbol senjata melawan kejahatan, tasbih, sebuah cawan, satu tangan memegang dada, serta satu tangan lagi memegang cupu.

Tidak hanya patung Buddha yang terdapat di situ, ternyata ada juga patung dewa Ganesha di dekatnya. Patung dewa pengetahuan ini sempat membuat saya kembali bingung. Karena yang saya tahu dewa Ganesha ini adalah dewa dalam ajaran Hindu, namun mengapa ada di tempat ini??
Ahhh, sayapun tidak ambil pusing (nanti takut pusing beneran.. hehehe). Saya yakin penempatan patung Ganesha itu pasti memiliki tujuan filosofis tertentu.

Di dalam lokasi monumen itu saya juga melihat ada empat patung gajah berwarna putih yang tingginya sekitar 4 meter disetiap sudut. Di bawah kaki setiap patung gajah ini terdapat hiasan bunga teratai. (woww, simbol apa lagi ini?? itulah pertanyaan yang ada di benak saya) hehe

Kemudian ada tiga kolam yang dihias bunga teratai, dan sebuah ruangan tertutup yang menurut info adalah ruang meditasi. Di dalam kawasan monumen ini juga dihiasi 12 lampu yang lagi-lagi menurut info yang saya peroleh, lampu-lampu tersebut terbuat dari perunggu dan tembaga.

Menurut kabar patung Buddha ini mirip dengan yang berada di Thailand. Hanya saja, patung yang ada di negeri gajah putih tersebut lebih tinggi. Namun bangunan stupanya masih lebih tinggi yang ada di Surabaya ini loh.

Wuah, setelah puas melihat-lihat akhirnya sayapun menyudahi perjalanan langkah kaki saya di monumen Four Faces Buddha ini.

Perjalanan langkah kali ini merupakan perjalanan langkah yang memberikan saya begitu banyak pengalaman mengenai filosofi ajaran Buddha. Huahhh, perjalanan langkah yang menyenangkan hati, mata juga pikiran saya.

Nah sampai bertemu di catatan saya yang berikutnya ya. Salam…….

catatan 13: NAPAK TILAS SEJARAH ROKOK.

“NV.Handel.Mij – Sampoerna, Sigaretten Fabriek, Liem Seeng Tee 1932.”

Tulisan itulah yang pertama kali saya lihat di depan pintu masuk House of Sampoerna. Walaupun tidak paham artinya tetapi membuat rasa penasaran saya jadi bertambah. Apalagi bentuk pilar depannya yang berbentuk rokok kretek, wahh jadi tambah penasaran saya.

Kali ini langkah saya tiba di House of Sampoerna, Surabaya.

Terletak di daerah “Surabaya lama” persisnya di sebuah tempat agak terpencil di daerah Jembatan Merah, kompleks bangunan ini dibangun sekitar tahun 1862 dan sekarang ini bangunan ini dijadikan situs cagar budaya kota Surabaya. Bangunan yang bergaya bangunan colonial ini memang awalnya merupakan bangunan milik pemerintah Belanda yang pada waktu dulu berfungsi sebagai panti asuhan putra. Barulah pada tahun 1862 bangunan ini dibeli oleh Liem Seeng Tee, sang pendiri Sampoena.

Di bangunan yang sekarang menjadi kompleks museum ini saya ditawarkan suatu pengalaman yang unik. Pada bagian depan pintu masuk saya langsung disambut oleh guide museum yang ramah. Pada bagian depannya saya langsung mencium aroma wangi tembakau. Tidaklah heran, karena di salah satu bagian di dalam museum ini terdapat tumpukan tembakau. Begitu saya memasuki museum ini saya melihat air mancur mini dengan ikan hias yang sedang berenang di kolam.

Udara dari mesin pendingin ruangan terasa sangat sejuk. Lantainya mengkilap. Petugas-petugasnya berpenampilan rapi seperti pelayan hotel berbintang. Dan tak ketinggalan lukisan-lukisan besar dan barang-barang kuno menghiasi lobi utama gedung ini.

Selain itu juga terdapat replika warung yang konon dahulu merupakan warung tempat menjual cikal bakal rokok Sampoerna yang kita kenal sekarang. Tak jauh dari situ juga terdapat replika yang memamerkan contoh-contoh bahan baku yang digunakan untuk membuat rokok.

Berbagai jenis tembakau terpampang berjajar rapi dalam sebuah lemari kaca. Jenis-jenis yang dipamerkan, antara lain, adalah tembakau Bali, Jawa, dan Bondowoso.Di sini juga diperlihatkan berbagai komponen peralatan untuk meracik tembakau, diantaranya sebuah gelas ukur dan timbangan. Ada juga bentuk tungku besar yang dahulu digunakan untuk mengolah tembakau

Di salah satu sudutnya juga terdapat ruangan tamu lengkap dengan kursi serta meja ditambah beberapa lemari kaca besar khas ruangan tamu jaman kolonial dahulu. Di dalam lemari kaca tersebut terpajang dua stel kebaya milik Siem Tjiang Nio, istri Liem Seeng Tee. Kebaya berwarna putih gading itu masih terlihat baru lengkap dengan selendangnya. Saya memperhatikan banyak juga lukisan yang terpampang di setiap dinding ruangan. Semua lukisan ini berhubungan dengan rokok, entah itu gambar orang merokok atau hanya sekedar gambar rokok lengkap dengan koreknya

Kemudian saya juga melihat sebuah lemari etalase yang didalamnya terdapat koleksi korek api. Puluhan merek korek api dengan berbagai ukuran kotak korek api berjajar rapi di dua buah etalasenya.

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui sejarah berdirinya Sampoerna, disediakan juga beberapa monitor dengan teknologi layar sentuh (touch screen).

Masuk lebih dalam saya melihat bentuk pintu yang berbentuk melengkung dan dihiasi lambang Sampoerna. Pada bagian dalamnya saya juga melihat beberapa contoh mesin pengolah tembakau, ada juga etalase yang berisi rokok-rokok keluaran Sampoerna. Di etalase itu saya dapat melihat jenis rokok khusus dengan bungkus kotak berwarna emas. Di kotak itu tertulis “Istana Presiden” dan “Istana Wakil Presiden”. Memang Sampoerna mengeluarkan beberapa jenis rokok yang merupakan “limited edition”.

Ada juga beberapa barang yang memamerkan pernak-pernik kelompok Marching Band Sampoerna yang berhasil menarik perhatian warga Pasadena , Amerika Serikat pada saat kelompok Marching Band ini tampil di event Tournament of Roses di Pasadena, Amerika Serikat, tahun 1990 dan 1991. Ada seragam marching band, instrumen yang digunakan di marching band tersebut, hingga monitor layar sentuh yang memutar adegan-adegan turnamen yang membanggakan tersebut. Wah pada bagian ini cukup menarik perhatian saya untuk sejenak.

Masih pada ruangan yang sama saya melihat satu lagi replika warung yang memamerkan produk rokok Sampoerna serta berbagai jajanan khas tempoe doeloe, lengkap dengan hiasan lampu petromaks khas warung jaman dahulu. Tak jauh dari situ, ada juga dua buah sepeda onthel milik Liem Seeng Tee serta motor tua merk Djawa keluaran Denmark yang masih sangat terawat dan mengkilap.

. Di dinding sepanjang tangga menuju ke atas terdapat banyak poster yang bergambar hal-hal yang berhubungan dengan promosi Sampoerna. Hmmmm.. dekorasi yang menarik menurut saya.

Di lantai atas saya pandangan saya langsung tertuju pada salah satu sudut ruangan berkaca yang didalamnya ada beberapa ibu-ibu pekerja yang meracik rokok kretek Sampoerna lengkap dengan peralatan pembuatan rokoknya. Menurut guide museum, ibu-ibu pekerja ini dikelompokkan menjadi 3.

Kelompok pertama, pekerja yang bertugas melinting tembakau pada kertas rokok kretek. Kelompok ini menggunakan topi pet berwarna merah. Kelompok kedua, adalah petugas yang bertugas sebagai pemotong rokok serta merapihkan jika tembakau yang dilintaing masih kurang terlinting dengan baik. Kelompok ini mengunakan topi pet berwarna hitam. Sedangkan kelompok yang ketiga adalah petugas yang bertugas mengepak rokok kretek yang sudah jadi. Kelompok ini memakai topi pet warna kuning. Cukup unik bukan…

Masih di lantai yang sama, ada kaca besar yang bening dimana jika kita melihat ke bawah maka kita akan melihat suasana pabrik pembuatan rokok kretek Sampoerna, memang menurut guide museum, pabrik yang berada di bagian bawah tersebut hanyalah pabrik kecil. Pabrik kecil tersebut memang masih beroperasi hingga sekarang dan selain itu juga sebagai bagian museum yang memberikan informasi secara nyata tentang bagaimana dinamika sebuah pabrik rokok kretek. Jadi tak heran bila dari awal di depan museum tadi saya mencium aroma wangi tembakau memenuhi bagian dalam museum, ternyata pada bagian museum yang lebih dalam terdapat pabrik kecil. Menurut info yang saya dapat, sebelum menjadi pabrik menurut guide museum dulunya tempat pabrik ini beroperasi sebagai bioskop. Dan pintu melengkung di lantai di bawahnya yang saya lihat tadi adalah pintu masuknya.

Di lantai dua ini ternyata juga berfungsi untuk lokasi kios. Di sebuah sudut ruangan terdapat berbagai macam cinderamata yang dijual, mulai dari t-shirt, pin, buku, kotak rokok, korek gas, gantungan kunci, tas, dan berbagai macam gaya notebook.

Puas melihat bagian dalam museum saya kembali turun ke bawah menuju pintu keluar. “Terimakasih Mas atas kunjungannya” sapa seorang petugas di pintu sambil membukakan pintu untuk saya. Wahh, alangkah ramah dan baiknya petugas-petugas museum House of Sampoerna ini. Gumam saya dalam hati.

Di bagian luar saya melihat ada mobil wisata berbentuk trem mirip mobil wisata yang ada di taman buah mekarsari. Sayapun mendekatinya untuk cari tahu lebih jelas. Setelah bertanya ke petugas ternyata mobil wisata tersebut adalah bis Surabaya Heritage Track. Salah satu program tur edukasi yang diselenggarakan oleh House of Sampoerna.

Surabaya Heritage Track adalah program tur berkeliling kota Surabaya dengan gratis untuk mengunjungi situs-situs bersejarah, mempelajari legenda tentang Surabaya -atau yang dikenal dengan “Babad Surabaya” -, dan untuk berfoto-foto di daerah-daerah bersejarah, seperti monumen Tugu Pahlawan dan gedung PT Perkebunan Nusantara yang dahulu adalah tempat untuk menimbun hasil bumi pada zaman penjajahan Belanda.

Dalam sehari, bis lucu dan unik yang berpangkalan di House of Sampoerna ini menjalani tiga kali trip, yaitu pukul 10.00-11.30 WIB, 13.00-14.30 WIB, dan 15.00-16.30 WIB. Untuk hari Jumat-Minggu, waktu trip diperpanjang setengah jam menjadi 09.00-11.00 WIB, 13.00-14.30 WIB dan 15.00-17.00 WIB.
Selain museum dan Surabaya heritage track di House of sampoerna ini juga terdapat the Café Sampoerna ialah sebuah restoran dengan konsep yang sangat unik, dimana seluruh design interiornya mengadopsi gaya kuno/retro yang selaras dengan bentuk bangunannya. Dalam the Cafe ini juga terdapat beberapa ornamen-ornamen kuno yang unik hingga lukisan yang menggambarkan beberapa slogan iklan Sampoerna. Waktu saya berkunjung kebetulan ada pasangan yang akan melakukan foto prewedding di dalamnya.

Akhirnya setelah berputar di kompleks House of Sampoerna sayapun kembali untuk menuju pulang. Menuju tempat parkir, saya kembali melewati bangunan museum dan rumah keluarga Sampoerna yang lengkap dihiasi mobil Rolls Royce lawas yang parkir di sampingnya.

House Of Sampoerna, merupakan kompleks tempat yang menarik untuk dikunjungi selain memberikan nuansa museum serta café yang berbeda, tempat ini juga memberikan nilai-nilai edukasi yang lengkap mengenai sejarah Sampoerna serta kontribusinya dalam membangun negara Indonesia ini.

“Maju terus House Of Sampoerna. Namamu harum seharum wangi aroma tembakaumu.”

Sampai jumpa..

Catatan 12 : Zangrandi, si jadoel yang tetap eksis..

Kalo di Jakarta punya es krim legendaris Ragusa, di Malang & Semarang punya es krim OEN, Nah di Surabaya punya es krim Zangrandi.

Nah, sekarang langkah saya sudah sampai di toko es krim yang tertua di kota Surabaya. Namanya Zangrandi. Zangrandi adalah toko es krim tertua di Surabaya karena sudah berdiri sejak 1930.  Pendirinya adalah seorang Italiano bernama Renato Zangrandi. Tadinya saya tidak berencana mengunjungi tempat ini, tapi karena didesak oleh perasaan penasaran serta rekomendasi dari teman saya, akhirnya saya memutuskan untuk datang ke tempat ini.

Letaknya ada di Jalan Yos Sudarso No 15, gak jauh dari gedung Balai Pemuda Surabaya yang berarsitektur lawas itu. Gak cuma jago meracik es krim, tampaknya insting bisnis Bapak Renato juga ciamik. Dipilihnya lokasi yang strategis, di seberang gedung yang sekarang bernama Balai Pemuda. Nah, dulu gedung itu adalah tempat ’ajeb-ajeb’ para meneer Belanda. Nah, jadi sebelum atau sesudah party, para sinyo dan noni Belanda itu mampir dulu ke toko es krim Zangrandi. (Hmmm… pandai juga Bapak yang satu ini).

Sesampainya saya di depan tempat ini, saya langsung terfokus pada bentuk bangunannya yang sangat otentik lawas dan orisinal. Deretan bangku rotan tua berwarna paduan  merah dan putih yang tersusun rapi membuat nuansa jadul terasa sangat kental di tempat ini. Meskipun es krim jadul, namun citarasa Zangrandi ini mampu memikat pelanggannya. Kalo anda pergi ke beberapa Mall atau Plaza di Surabaya, tidak sedikit terdapat outlet-outlet es krim ini disana. Ini menunjukkan bahwa es krim ini sampai sekarang masih mendapatkan tempat tersendiri di hati para pelanggannya.

Saat itu, saya datang sekitar jam 19.30. Suasana malam kota Surabaya menambah rasa penasaran saya untuk menjelajah di resto es krim ini. Setelah saya bertanya sebentar pada mbak-mbak yang menjual es krim di Zangrandi, kemudian saya di berikan buku menu. Pada halaman pertama buku menu terdapat gambar Zangrandi di masa lampau. Disini tertulis bahwa Zangrandi telah ada sejak tahun 1930. Wah, berarti tempat ini sudah berdiri sejak masih dalam penjajahan Belanda. Cukup tua juga es krim ini, sebab saat ini umurnya sudah hampir 70 tahun.
Harga ice cream mulai dari Rp 9.000,- untuk es krim horn (cone ditambah 1 scope es krim) sampai Rp 20.000,-. Ternyata, tidak hanya es krim, kita juga bisa memilih makanan ringan seperti risoles, kroket, pastel tutup, lumpia goreng, siomay ataupun French fries.

Pada bagian minuman di buku menu tertulis beberapa jenis minuman mulai dari air mineral, soft drink , jus buah, dan milkshake. Minuman disini ditawarkan dari harga Rp 1.000,- untuk air mineral sampai Rp 18.000,- untuk milkshake . Pada halaman terakhir buku menu ditawarkan pula berbagai ice cream tart berukuran mulai dari ukuran 16 cm, 21 cm dan 24 cm.

Namun karena saya bukan pecinta es krim, maka saya tidak akan banyak memberikan rekomendasi ice cream flavor yang ada di tempat ini. Yang pasti, es krim jagoan di tempat ini adalah  es krim Tutti Frutti. Bentuknya seperti es potong, tapi segitiga.  Ada rasa coklat, mocca, vanilla terus didalamnya ada potongan-potongan kecil manisan kulit buah jeruk atau yang biasa dikenal dengan istilah zucade. Selain Tutti Fruti, hidangan yang juga terkenal sejak jaman dulu adalah Es Krim Soda, scoop es krim dengan aneka pilihan rasa yang dicampur dengan air soda terasa segar sebagai pengusir gerahnya Surabaya. Selain itu masih ada es krim banana split, noodle ice cream dan crispy basket yang layak dicoba. Buat yang ga doyan es krim, ada snack juga kok, seperti siomay, pastel, kroket dan resoles.

Walaupun es krim gaya Italia, tapi tekstur es krim Zangrandi sangat jauh berbeda dengan tekstur es krim Italia yang sekarang sedang in seperti Gelato yang bertekstur lembut karena mengandung lebih banyak krim susu. Es krim Zangrandi lebih mirip Casata yang bertekstur lebih keras dan tidak selembut Gelato. Tetapi walaupun tidak bertekstur lembut bukan berarti es krim Zangrandi tidak enak. Justru kekhasan tekstur dan rasa yang old style yang ada di Zangrandi inilah yang  rasanya sulit untuk bisa ditandingi oleh tempat es krim manapun yang ada di kota Surabaya ini.

Puas sejenak mampir di tempat ini, akhirnya sayapun kembali pulang.

Es Krim Zangrandi seporsi besar nostalgia, sesendok otentisitas dan bumbu kejadoelan dari masa lampau…  untuk kita nikmati di hari ini

Catatan 11 : Melihat kubah emas di Dian Al Mahri

Pada kesempatan kali ini saya bergerak ke pinggiran kota Jakarta, tepatnya kota Depok. Lebih tepatnya di Maruyung, Cinere, Limo, Kota Depok. Rencananya saya akan mengunjungi sebuah  bangunan ibadah yang memiliki keistimewaan  tersendiri.

Nama tempat yang saya maksud  adalah Masjid Dian Al Mahri yang lebih dikenal oleh orang banyak sebagai  Masjid Kubah Emas.

Kubah Emas ???  ya Kubah Emas. Disebut demikian karena di bangunan Masjid ini pada beberapa bagian kubahnya dilapisi dengan emas. konon dari buku buletin yang dijual di pintu masuk Masjid ini, emas yang dipakai adalah emas 24 karat dari Itali. Sungguh istimewa indah kubah dari masjid ini.

Setelah beberapa jam menuju kawasan tersebut, akhirnya langkah saya sampai di lokasi yang dimaksud. Jalan menuju ke lokasi cukup sempit (hanya 2 jalur). Kendaraan pun saya parkir dan saya pun mulai melangkah menuju arah Masjid.  Berjalan melalui jalan setapak yang beraspal menuju halaman masjid, pemandangan taman yang begitu luas dan indah terpampang  jelas di depan mata saya. Taman yang menurut info yang saya peroleh memiliki luas 4.000 meter persegi itu terbentang mengelilingi bangunan Masjid. Tanaman hias (bonsai) berwarna-warni yang ditanam di pot hingga berbagai tanaman buah juga berjejer rapi melengkapi keindahan sekeliling bangunan cantik itu. Dengan lokasi yang tertata apik seperti ini tidaklah mengherankan apabila pada hari-hari tertentu seperti Hari Raya ataupun hari libur nasional lainnya, tempat ini menjadi lokasi yang banyak dikunjungi oleh masyarakat yang ingin melihat keistimewaan dari bangunan Masjid ini.

Berdasarkan  info dari buku kecil yang saya beli di pintu masuk Masjid ini, Bangunan Masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 70 hektar. Bangunan ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai pembangunannya akhir tahun 2006. Bertepatan dengan hari besar Idul Adha yang kedua kali tepatnya pada tanggal 31 Desember 2006, Masjid ini mulai dibuka untuk umum. Oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, wanita pengusaha asal Banten, Masjid ini dibangun dengan terlebih dahulu membeli tanah ini pada tahun 1996. Konon Masjid Dian Al Mahri ini merupakan salah satu dari 7 masjid berkubah emas di dunia. Istimewa bukan.

Bergerak menuju dalam Masjid, sebagai mana kebiasaan jika ingin memasuki Masjid tentunya alas kaki harus ditanggalkan. Saya pun menanggalkan alas kaki saya dan menitipkannya ke bagian penitipan alas kaki yang memang telah disiapkan oleh pengelola Masjid. Letaknya ada di bagian agak dalam, setelah meniti beberapa anak tangga serta melewati tempat berwudhu maka saya menemukan bagian penitipan alas kaki. Di situ saya mendapat nomor penitipan  layaknya kalau kita hendak menitipkan barang bawaan kita di supermarket. Pintu masuk Masjid ini dipisahkan antara pria dan wanita, dan di depan Masjid ada tulisan dilarang masuk untuk anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Dan perlu diingat juga bahwa pada siang hari, halaman luar masjid/lantai depan masjid sangat panas, sehingga pihak pengurus Masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman Masjid. Memang saat saya berjalan di lantai depan Masjid memang kaki saya terasa sangat panas, mungkin karena bahan lantainya yang memang menyerap panas dari matahari.

Masjid ini memiliki 6 menara (minaret) berbentuk segi enam. Ke 6 menara (minaret) ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India dan dibalut dengan mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya didatangkan dari Itali. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai warna langit pada waktu-waktu sholat. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan bantuan komputer. canggih bukan..

Di bagian dalam ruangan masjid terdapat pilar-pilar yang kokoh menjulang tinggi. Pilar Masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas. Didominasi dengan unsur warna krem. Adapun setiap mahkota yang terdapat pada pilar masjid juga berlapiskan emas. Pegangan tangga dari lantai satu ke dua juga dilapisi emas serta hiasan, termasuk tulisan tasbih, ornamen di atas mimbar imam juga dilapisi emas. Ketika berada di dalam saya melihat banyak umat yang dengan khusyuk memanjatkan doa, ada pula yang membaca Al-Quran, mengobrol atau sekedar beristirahat. Memang sungguh hangat suasana di dalam Masjid ini.

Setelah memasuki bagian dalam Masjid ini. Sayapun melangkah kembali mengelilingi bagian luar Masjid. Di kawasan Masjid ini ternyata juga dibangun semacam aula untuk titik berkumpul, ada juga tempat penjualan souvenir serta Pada bagian kanan Masjid terdapat sebuah rumah yang tidak kalah megah. dimana menurut penjaga Masjid adalah rumahnya Ibu Hj Dian. Rumahnya pada bagian atasnya terdapat menara kecil yang mengingatkan saya seperti bagian atas istana Presiden yang ada di Bogor yang juga berlapis emas. Oh iya, jika anda yang ingin berkunjung ke kawasan ini dan ingin mengabadikan gambar tetapi tidak membawa kamera (tustel) tenang saja, banyak photographer yang memang sudah dikelola oleh yayasan Dian Al Mahri yang dapat membantu anda yang ingin berfoto.

Setelah puas mengelilingi Masjid Kubah Emas ini, akhirnya saya mengakhiri langkah saya di kawasan Meruyung ini. Sungguh Masjid Dian Al-Mahri merupakan tempat ibadah yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sampai ketemu di catatan langkah saya yang mendatang ya….

catatan 10 : Mampir sejenak di “Rumah” Betara Wisnu.

Yup, sekarang langkah kaki saya menginjak di daerah Bukit Ungasan, Jimbaran Bali. kali ini saya bermaksud mengunjungi sebuah taman kebudayaan yang rencananya dibuat sebagai ikon pariwisata Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Garuda Wisnu Kencana (GWK) itulah nama tempat yang saya maksud di catatan saya kali ini. Taman kebudayaan (cultural Park) yang berada di Bukit Ungasan ini. merupakan sebuah areal kompleks yang menurut rencana selain terdapat patung Betara Wisnu juga akan dibangun exhibition center, beberapa restoran, amphiteather, Lotus Pond dan beberapa sarana lain.

Sepanjang perjalanan ketika memasuki kawasan ini, saya melihat banyak tebing-tebing batu cadas yang berukuran besar. Jujur awalnya saya agak bingung dengan apa yang saya lihat tersebut. ” Tempat wisata kok banyak batu-batunya?? padahal ini bukan wisata air panas belerang? “ itu yang ada di pikiran saya saat melihat banyak batu besar di jalan menuju kawasan ini. Tapi  ternyata setelah saya amati lebih lama ternyata memang lokasi kawasan ini memang terletak di daerah perbukitan cadas.

Dengan tiket masuk per orang @ Rp. 20.000,- yang mana merupakan jumlah nominal tiket wisata yang tidak murah, bisa dipastikan layanan dan fasilitas wisata yang mengagumkan.  Setelah saya melewati petugas parkir dan tiket, saya menyusuri jalan. Kemudian ada pos ke dua untuk mengecek kembali tiket yang sudah dibeli. Barulah saya bisa masuk ke tempat ini. Memang di areal wisata yang digagas oleh Bapak I Nyoman Nuarta ini menurut saya tertata dengan apik. Namun setelah  kendaraan saya diparkirkan, saya melihat – lihat sebentar pemandangan dalam bahasa jawa  ”clingak – clinguk“.Ssaya merasa sedikit bingung, karena tidak adanya penunjuk jalan ataupun informasi yang tersedia. Akhirnya saya memutuskan pertama untuk melewati toko souvernir / oleh – oleh. Disini banyak sekali pernak pernik, ukiran / pahatan kayu dalam berukuran kecil, sedang dan besar, miniatur patung dan sebagainya.

Lalu saya menyusuri di tebing kapur yang sudah di ukir. Dengan tinggi tebing kira – kira 20 meter lebih sangat membuat tempat ini terlihat semakin megah.

Kemudian setelah melewati toko souvenir dan beberapa tebing itu  saya kemudian berjalan dan sampai di tengah – tengah lapangan. Kemudian saya bertemu beberapa anak tangga dan sayapun menaikinya. sesampainya di atas  ada sebuah patung kepala Garuda besar yang belum selesai konstruksinya. Inilah patung kepala Garuda yang memang belum selesai pengerjaannya.

Lapangan

Melangkah lagi ke arah atas saya menjumpai seperti lapangan (namun lebih kecil ukurannya dari yang berada di bawah) dan terdapat patung kepala Dewa Wisnu yang juga belum selesai konstruksinya. Memang di areal ini terdapat 3 bagian patung yang rencananya akan disatukan menjadi satu. potongan bagian patung itu antara lain adalah : Kepala Dewa Wisnu, Kepala Garuda serta Tangan Dewa Wisnu. Jika pembangunan Patung ini selesai maka patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia mengalahkan patung Liberty yang ada di negeri Paman Sam. Membaca dari katalog mini yang saya dapat di pintu masuk, Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia.

Masih di seputaran di bagian selasar atas. Di sini juga terdapat pura kecil yang terdapat mata air suci yang konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit bilamana kita percaya. Namun sebagaimana tempat yang disucikan ada beberapa larangan yang harus kita patuhi, salah satunya yakni tidak boleh merokok dan harus sopan.

sayapun ikut mengantri untuk mendapatkan percikan air dari pendeta Hindu yang ada di situ. Kebetulan siapapun boleh mengantri untuk mendapatkan percikan air yang diselingi juga oleh doa yang diucapkan oleh pendeta Hindu disana. Jadi mumpung ada di GWK saya pun ikutan mengantri. Selain pura kecil bermata air suci dibagian atas inipun terdapat bale bengong (semacam gazebo untuk beristirahat) dan teropong (tentunya setelah memasukkan beberapa koin ke dalamnya) yang bisa kita digunakan untuk melihat pemandangan ke arah bawah. Karena letak GWK ini memang ada di atas bukit jadi kita dapat melihat ke arah bawah.

Puas menyusuri bagian atas kemudian saya kembali berputar ke arah bawah. saya juga menemui tempat seperti ruangan yang berisi patung barong dengan berbagai bentuk, gamelan serta beberapa patung lainnya.

Oh iya, terkadang di jam-jam tertentu ada pemain gamelan yang latihan di tempat ini. Wahh, merupakan pengalaman yang menarik untuk saya melihat pemandangan di areal ini sembari mendengar alunan gamelan khas Bali. apalagi jika mendengarnya di saat senja tiba. Wuahh sangat eksotis menurut saya. hehehe…

Kemudian setelah saya melihat ruangan tadi  sayapun turun menyusuri tangga, ada sebuah taman dan kolam renang dengan skala kecil. Disini saya duduk sebentar untuk beristirahat sejenak. Karena terus terang saya merasa capek sekali. Ternyata tempat ini sangat lah luas, hehehe ….  disini nih ada tempat pemandian para raja / dewa. Terus terang sayapun belum begitu tahu fungsi tempat ini. Tapi bisa di artikan seperti itu deh … . Kalo ada yang mau iseng-iseng berfoto ada patung sapi nih … lucu juga .. hehe

Setelah beristirahat sejenak sayapun bergerak ke arah ampitheater, karena belum jam pagelaran maka saya melihat beberapa anak-anak yang sedang berlatih bersama gurunya yang terlihat juga masih sangat muda. memang kebanyakan masyarakat Bali menanamkan rasa cinta kebudayaan sejak mereka berumur dini.

Ampitheater ini berbentuk seperti ampitheater yang ada di budaya Romawi (namun dengan nuansa Bali tentunya), dengan tangga-tangga yang berfungsi sebagai tempat duduk dan panggung di depannya. sayapun menunggu jam pagelaran di sore hari. sambil menunggu saya mencari makan sejenak di restoran yang berada di dalam areal kompleks GWK ini. Saat makan saya mendengar tabuhan gamelan yang berasa semakin dekat. sayapun bingung. setelah saya perhatikan ternyata pada saat-saat tertentu ada arak-arakan Barong, Leak serta beberapa penari yang diiringi tabuhan gendang khas Bali ditambah rencek (cymbal kecil khas Bali) yang berjalan berputar kawasan GWK ini.

Sorepun datang, sayapun melihat pertunjukan di Amphiteater. ceritanya memang sekitar kisah Ramayana namun dikemas dengan budaya Bali. jadi dialog dengan bahasa Bali. selain itu juga ada pagelaran tari pendet pada bagian awalnya.

Akhirnya setelah melihat pertunjukan tadi dan berjalan kesana kemari mengunjungi beberapa sudut Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, saya merasa capek dan letih. Tetapi saya merasa puas dan lega karena pemandangannya yang Megah dan suasana yang menyenangkan membuat tempat ini patut dikunjungi.

Jadi sampai jumpa lagi ya di catatan saya yang selanjutnya. Suksme..

Catatan 9 : Melihat impian di Pantai impian.

Masih di Bali, kali ini saya merapat ke daerah Selatan Bali. Yaitu Pecatu. Rencananya saya akan mengunjungi Pantai Dreamland yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari  Pura uluwatu.

Namanya yang memakai bahasa Inggris lah yang pertama membuat  rasa keingintahuan sama tambah meningkat kadarnya. Hehehe.. Setelah berjalan menuju ke lokasi Pantai akhirnya sampailah juga saya di pantai “tanah impian” ini. Kawasannya terletak di kompleks Bali Pecatu Graha. Kalau anda pernah tahu info berita beberapa tahun yang lalu mengenai sebuah kawasan pantai yang pernah disponsori oleh saudara Tommy soeharto, nah pantai Dreamland inilah yang dimaksud.

Terik matahari yang memang menjadi tipikal cuaca di daerah pantai, menyambut saya setiba saya di parkiran kawasan ini. Saya pun bergegas turun dan berjalan menuju arah pantai. Pantai ini terletak di daerah bawah dari tempat parkiran kendaraan, sayapun harus meniti anak tangga untuk dapat sampai ke pantai Dreamland ini.  Dari pandangan mata yang saya lihat di pantai ini. Pantai Dreamland ini adalah pantai yang dikelilingi tebing-tebing yang menjulang tinggi, serta juga terdapat  batu karang yang lumayan besar di sekitar pantai. Jadi apabila anda yang gemar untuk berfoto-foto diri sendiri atau memfoto kawan anda, di pantai ini tidaklah sulit untuk mencari spot yang menarik sebagai lokasi pemotretan.

Di sepanjang jalan menuju ke lokasi pantai, selain meniti anak tangga. Saya juga melihat ada satu restoran di sana, tak jauh dari situ terdapat tempat berganti pakaian dan kamar mandi. Dari daerah situ kita sudah dapat melihat pantainya yang terletak tak jauh di bawahnya. Namun yang saya agak terkejut, ketika saya ingin ke kamar mandi ternyata harga tiket kamar mandi berharga Rp. 3000 / Rp. 5000 (maaf saya agak lupa) untuk sekali masuk. Hmmm.. harga yang agak mahal menurut saya.

Begitu saya sampai di bagian bawah, di pantai nya. Saya langsung disambut dengan banyaknya pedagang kaos yang menjajakan dagangannya dengan beratapkan sebuah payung besar khas payung yang sering dijumpai di daerah pantai.

Sayapun kemudian berjalan-jalan di sekitarannya, menyusuri garis pantai. Sebagaimana banyak pantai lainnya saya melihat banyak turis asing berada di mana-mana. Ada yang berjemur, ada yang berfoto-foto ada pula yang bermain surfing. Pantai Dreamland ini sendiri menurut pandangan yang saya lihat. Pantai ini hampir mirip dengan pantai Kuta, tetapi lebih indah dan lebih sepi pengunjung.

Pasir putih dan celah karang yang terjal menjadi pemandangan yang begitu memikat mata untuk dipandang. Oleh karena daerahnya  memiliki kontur bukit dan bertebing, membuat pengunjung pantai yang melihat seolah-olah daerah pantai lebih rendah pada laut. Unik bukan??

Memang indah pantai yang satu ini. Apalagi karena letaknya yang berada di sebelah barat maka kita juga dapat melihat matahari terbenam. Oh iya, selain itu menurut pandangan saya. Karena  terletak di suatu kawasan terpadu maka fasilitasnya pun (menurut saya) lengkap. Ada penginapan berupa resort dan villa, ada tempat belanja, ada tempat makan, hingga ada pula lapangan golf. Jadi benar-benar pengunjungnya dimanjakan dengan fasilitas yang terpadu ini.

Puas berkeliling sayapun menyudahi langkah saya di pantai ini, saya kembali berjalan menuju arah parkiran. Meniti kembali anak tangga yang sekarang berarti saya harus berjalan naik (karena letak pantai yang di bawah) menuju ke parkiran kendaraan.

Wuahh, Pantai Dreamland yang indah. Pantai impian para pelancong….